Histori “Bupati Cianjur Terkenal Hidup Mewah”, Tetapi Rakyatnya Menderita.

Pendopo Bupati Cianjur

OPINI | CianjurNews.id

Sejarah kadang tidak benar-benar pergi. Ia hanya berganti kostum, berganti zaman, lalu muncul kembali dengan wajah yang nyaris sama.

Di tengah jeritan rakyat kecil akibat mahalnya kebutuhan hidup, sulitnya lapangan pekerjaan, dan pembangunan yang kerap terasa jauh dari keadilan, publik kembali dipertontonkan dengan gaya hidup elite kekuasaan yang serba mewah. Fenomena pejabat hidup glamor di atas penderitaan rakyat ternyata bukan sekadar cerita masa kini. Cianjur bahkan pernah menjadi simbol nyata ironi itu sejak ratusan tahun lalu.

Dalam catatan sejarah kolonial, Cianjur dikenal sebagai salah satu wilayah terkaya di Pulau Jawa. Tanah Priangan menghasilkan kopi dalam jumlah luar biasa besar melalui sistem tanam paksa yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda. Namun kekayaan itu tidak pernah benar-benar menjadi milik rakyat.

Petani dipaksa bekerja keras di kebun-kebun kopi. Tenaga mereka dikuras, hasil bumi mereka diangkut, tetapi keuntungan besar justru mengalir ke pemerintah kolonial dan para elite lokal yang hidup dalam kemewahan.

Sejarawan Jan Breman mencatat, pada awal abad ke-19 Cianjur menjadi penghasil kopi terbesar di wilayah Priangan. Produksinya mencapai angka fantastis untuk ukuran zaman itu. Tetapi di balik melimpahnya kopi tersebut, tersimpan kisah penderitaan rakyat yang dipaksa bekerja demi memperkaya kekuasaan.

Ironinya, di saat rakyat hidup penuh tekanan, Bupati Cianjur kala itu justru dikenal dengan gaya hidup yang sangat mewah. Dalam berbagai catatan sejarah, sang bupati disebut kerap bepergian menggunakan kereta berlapis emas, simbol kemegahan feodal yang kontras dengan kehidupan rakyat jelata.

Kemewahan para penguasa lokal Priangan bahkan menjadi sorotan penulis Belanda Multatuli dalam novel Max Havelaar. Ia menggambarkan bagaimana rakyat dipaksa menanggung beban demi melayani elite penguasa yang datang dengan segala kebesarannya. Dua abad berlalu, tetapi aroma sejarah itu seperti masih berkeliaran di lorong-lorong kekuasaan hari ini.

Bedanya, kereta emas kini berubah menjadi mobil mewah, rumah elite, gaya hidup glamor, hingga parade kekayaan yang dipamerkan terang-terangan. Jabatan publik bukan lagi sekadar amanah pelayanan, melainkan terlihat seperti jalan cepat menuju status sosial dan kemapanan fantastis. Sementara itu, rakyat masih berkutat dengan persoalan yang itu-itu saja.

Jalan rusak masih ditemukan di berbagai wilayah. Pengangguran tetap tinggi. Petani mengeluh soal pupuk dan harga panen. Anak muda kesulitan mencari pekerjaan. Banyak masyarakat hidup dalam tekanan ekonomi yang semakin berat. Tetapi di sisi lain, sebagian elite justru tampil seolah hidup di dunia berbeda.

Yang paling menyakitkan, publik Indonesia berkali-kali menyaksikan kepala daerah tersangkut kasus hukum dan itu juga pernah terjadi di Cianjur yaitu tertangkapnya Bupati Cianjur (periode 2016-20121) & beberapa pejabatnya oleh KPK. Konteksnya selalu mirip, ada yang tertangkap karena suap proyek, jual beli jabatan, permainan anggaran, hingga praktik bancakan kekuasaan yang menggerogoti uang rakyat. Ini yang membuat sejarah terasa begitu menampar.

Dulu rakyat diperas melalui tanam paksa. Hari ini rakyat bisa diperas lewat korupsi anggaran, permainan proyek, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Dulu penguasa memamerkan kereta emas. Kini kemewahan tampil dalam bentuk kendaraan miliaran, rumah megah, hingga gaya hidup keluarga pejabat yang sering kali jauh dari kesederhanaan.

Mentalitasnya terasa sama: kekuasaan dijadikan alat menikmati privilese, sementara rakyat diminta terus bersabar.

Padahal jabatan publik bukan warisan bangsawan kolonial. Pejabat bukan raja kecil yang harus hidup paling mewah di tengah rakyatnya. Dalam demokrasi, kekuasaan seharusnya hadir untuk melayani, bukan mempertontonkan kemegahan.

Cianjur pernah menjadi saksi bagaimana kekayaan daerah hanya dinikmati segelintir elite, sementara rakyatnya hidup dalam penderitaan panjang. Dan hari ini, publik pantas bertanya dengan nada getir: apakah sejarah itu akan-sedang terulang kembali?

Sebab ketika rakyat semakin sulit hidup, tetapi sebagian pejabat justru semakin tampak bergelimang kemewahan, maka yang lahir bukan hanya ketimpangan sosial – melainkan kemarahan diam-diam yang terus tumbuh di tengah masyarakat.

Dan sejarah selalu membuktikan, ketika penguasa terlalu sibuk menikmati kemewahan, mereka sering terlambat mendengarjeritan rakyatnya sendiri.***

 

(Redaksi CianjurNews.Id)