“KELUARGA SANUSI: Santun Tapi Korupsi” Menggema di DPRD Cianjur, GMNI Soroti Dugaan Kendali Politik di Balik Pemerintahan
CianjurNews.id || Cianjur – GMNI Kabupaten Cianjur menggelar aksi demonstrasi danmembentangkan spanduk di dalam Gedung DPRD Kabupaten Cianjur saat rapat paripurna berlangsung, Senin (20 April 2026). Aksi tersebut menjadi sorotan karena membawa kritik tajam terhadap situasi politik dan tata kelola pemerintahan daerah yang dinilai mulai kehilangan independensi.
Dalam aksinya, massa mengusung narasi bertajuk “KELUARGA SANUSI: Santun Tapi Korupsi”. Istilah tersebut digunakan sebagai bentuk kritik simbolik terhadap dugaan praktik kekuasaan yang dinilai tampil santun di ruang publik, namun diduga menyimpan kepentingan politik dan ekonomi di balik layar.
Ketua DPC GMNI Cianjur, Rama, menyebut fenomena yang berkembang di Kabupaten Cianjur sebagai alarm serius bagi demokrasi lokal dan reformasi birokrasi.
“Hari ini kita dihadapkan pada wajah baru korupsi: bukan lagi kasar, bukan lagi terang-terangan, tetapi dibungkus rapi dengan senyum, jabatan, dan tutur kata manis. Mereka tampak santun di depan publik, namun rakus di belakang meja,” ujar Rama dalam orasinya.
Menurut Rama, berkembang persepsi di tengah masyarakat bahwa proses pengambilan keputusan strategis di lingkungan pemerintahan daerah tidak sepenuhnya berjalan secara independen. Ia menilai terdapat dugaan adanya figur non-struktural yang disebut memiliki pengaruh bahkan dominan terhadap rotasi-mutasi jabatan hingga proyek pemerintahan.
Dalam aksi tersebut, demonstran juga menyinggung nama keluarga dekat Bupati yang disebut sebagai pihak yang diduga memiliki pengaruh besar di lingkaran kekuasaan daerah. Namun demikian, GMNI menegaskan bahwa seluruh dugaan tersebut harus diuji melalui mekanisme hukum dan pengawasan institusional yang sah.
“Kalau benar ada pihak di luar struktur resmi pemerintahan yang ikut menentukan jabatan, proyek, bahkan arah kebijakan, maka itu ancaman serius bagi reformasi birokrasi,” kata Rama.
Sementara itu, aktivis senior Cianjur yang dikenal sebagai Mang Gawel turut melontarkan kritik keras melalui tayangan yang beredar di media sosial TikTok. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan dugaan adanya “dua matahari” dalam tata kelola pemerintahan Kabupaten Cianjur. Mang Gawel mengaitkan bahwa pernyataan cita cita Bupati Cianjur ingin cepat meninggal lantaran diduga tertekan atas segala intervensi keluarga dekatnya.
Mang Gawel mengkritik dugaan campur tangan pihak luar terhadap kebijakan pemerintahan, termasuk dalam urusan birokrasi dan pengelolaan anggaran daerah. Ia bahkan menyebut adanya persepsi di masyarakat bahwa kepala daerah hanya menjalankan formalitas administratif atas keputusan yang diduga dipengaruhi pihak lain.
Namun demikian, seluruh pernyataan tersebut merupakan opini dan pandangan pribadi narasumber yang belum terverifikasi secara hukum. Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Cianjur maupun pihak yang disebut dalam pemberitaan terkait tudingan yang berkembang di ruang publik.
Seorang Tokoh Muda Muslim Cianjur yang konsen dalam masalah sosial politik ; Aa Fawa; menilai isu yang berkembang perlu dijawab secara terbuka oleh pemerintah agar tidak menimbulkan spekulasi liar yang berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan.
Menurutnya, transparansi dalam proses rotasi jabatan, pengelolaan proyek daerah, serta hubungan antara kekuasaan politik dan birokrasi menjadi penting untuk menjaga stabilitas pemerintahan dan kepercayaan masyarakat.
Sebagai media watchdog, CianjurNews.id memandang bahwa kritik publik merupakan bagian dari kontrol sosial yang dijamin dalam sistem demokrasi. Namun seluruh dugaan, tudingan, maupun opini yang berkembang tetap harus ditempatkan dalam koridor hukum, asas praduga tak bersalah, serta verifikasi yang berimbang.
Media ini juga membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada seluruh pihak yang disebut dalam pemberitaan sesuai ketentuan Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.***






