Kepemimpinan KDM & Kebangkitan Sunda: Dari Filosofi Tradisi ke Aksi Nyata
CianjurNews.id || Cianjur – Sejak menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat 2025–2030, Dedi Mulyadi atau KDM tidak sekadar hadir sebagai pejabat birokrasi. Fenomena “Sunda Harus Bangkit” yang melekat pada dirinya menjadi simbol kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat, sekaligus pelestari budaya lokal.
KDM menekankan bahwa Jawa Barat harus menjadi provinsi yang produktif sekaligus menjaga identitas budaya Sunda. Filosofi hidup Sunda, seperti “silih asah, silih asih, silih asuh”, menjadi dasar cara ia bekerja: harmonis dengan alam, peduli sosial, dan mendorong kemandirian masyarakat.
“Sunda harus bangkit bukan hanya soal simbol budaya, tapi bagaimana masyarakat bisa hidup mandiri, produktif, dan tetap menjaga alam,” ujar KDM saat ditemui di Gedung Sate, Bandung.
Aksi Nyata di Lapangan
Dalam beberapa bulan pertama kepemimpinannya, KDM langsung melakukan sidak ke berbagai fasilitas publik, menertibkan bangunan ilegal di bantaran sungai, dan melarang penanaman sawit di wilayah yang rawan kerusakan lingkungan.
“Kebijakan kami selalu didasari pada keberlanjutan, bukan hanya keuntungan sesaat,” jelas KDM. Aksi-aksi ini mencerminkan kepemimpinan yang tegas tapi humanis, sekaligus menunjukkan bahwa KDM bukan sekadar “Gubernur Konten YouTube” seperti kadang disebut sebagian pihak, melainkan pemimpin yang turun langsung menyelesaikan masalah warga.
Penguatan Identitas Sunda
Selain kebijakan administratif, KDM aktif mendukung kegiatan pelestarian budaya. Mulai dari festival seni dan kesenian Sunda, pelatihan bahasa dan musik tradisional, hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
“Budaya Sunda itu kaya. Kalau tidak dijaga dan dipraktikkan, anak-anak kita akan kehilangan akar identitasnya,” kata KDM saat menghadiri Kirab Budaya HUT Jawa Barat.
Pendekatan ini membuat kepemimpinannya disambut hangat masyarakat, terutama emak-emak dan komunitas lokal yang merasakan manfaat langsung dari program pemberdayaan masyarakat. Semangat “Sunda Harus Bangkit” di bawah kepemimpinan KDM menjadi gabungan antara pelestarian budaya, pembangunan berkelanjutan, dan peningkatan kesejahteraan rakyat.
Kesimpulan
Kepemimpinan KDM menonjolkan harmoni antara modernisasi dan tradisi, serta aksi nyata yang membumi. Melalui filosofi Sunda dan langkah-langkah pro-rakyat, ia membuktikan bahwa identitas budaya dan pembangunan dapat berjalan beriringan, sekaligus menumbuhkan rasa bangga pada suku Sunda di Jawa Barat.





